INSIGHT
Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) Indonesia memperkenalkan skema distribusi royalti terbaru pada 2026 untuk mengatasi masalah data penggunaan musik yang selama ini menghambat pembayaran kepada pencipta dan pemegang hak. Sekitar Rp33 miliar royalti lagu masih belum diklaim, menjadi sorotan penting dalam ekosistem monetisasi musik nasional. Di kancah global, hak cipta dan teknologi menjadi fokus utama. Startup pembuat lagu berbasis AI seperti Suno dan Udio menghadapi kritik awal karena dianggap mengeksploitasi karya kreator tanpa kompensasi, namun kini telah menandatangani lisensi dengan label besar untuk penggunaan AI yang sah.
Warner Music Group mendapat pengakuan sebagai salah satu TIME100 Most Influential Companies 2026 karena strategi proaktifnya dalam mengatur hubungan AI dengan hak kreator, termasuk kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk penggunaan AI yang etis di musik. Konglomerat hiburan Korea, HYBE, membentuk NFO LLC untuk mengelola artis global seperti Tyla, memperluas jangkauan mereka di pasar internasional dengan manajemen terpadu tur, pemasaran, dan kolaborasi konten.
Artis internasional seperti Miley Cyrus, RAYE, dan Charlie Puth terus menambah katalog global dengan kolaborasi baru. Band legendaris The Rolling Stones mengumumkan album Foreign Tongues, mendapat perhatian luas penggemar rock klasik. Di tangga lagu Billboard, Bruno Mars dan Zach Bryan memimpin, menunjukkan dinamika konsumsi musik yang terus berubah.
Duo The Black Keys mengkritik industri musik karena terlalu dikontrol oleh kekuatan kapitalis, menyoroti ketegangan antara kreativitas dan tuntutan komersial. Sementara itu, band reggae AS Stick Figure menghadapi remix AI tak berizin yang viral tanpa pembayaran royalti, mencerminkan masalah hak digital di era AI.

(Foto: Stock Photos)
Akankah tren industri musik berubah pada tahun 2026?
9 Mei 2026, Blitar
(rr/7p/26)
Mudah Rilis Lagu, Sulit Bertahan
Industri musik memasuki 2026 dengan wajah yang semakin kompleks. Di satu sisi, bisnis musik global masih tumbuh. Di sisi lain, persaingan makin padat, biaya makin tinggi, dan peluang tidak lagi tersebar merata. Laporan IFPI mencatat pendapatan musik rekaman global mencapai US$31,7 miliar pada 2025, naik 6,4 persen. Ini menjadi tahun ke-11 pertumbuhan berkelanjutan. Streaming masih menjadi mesin utama industri dengan pendapatan lebih dari US$22 miliar, atau sekitar 69,6 persen dari total pendapatan global. Namun, pertumbuhan itu tidak otomatis membuat semua musisi menang. Masalah terbesar saat ini bukan lagi distribusi, melainkan penemuan pendengar. Kini, siapa pun bisa merilis lagu ke platform digital dalam waktu singkat. Tetapi, tidak semua lagu bisa mendapatkan perhatian. Di tengah banjir rilisan harian, banyak lagu hanya berakhir sebagai angka kecil di katalog streaming.
Streaming Bukan Lagi Jaminan
Streaming pernah membuka akses besar bagi musisi. Namun, fase itu telah berubah. Hampir semua artis, label, dan distributor kini bermain di ruang yang sama. Tantangan utama bukan lagi bagaimana lagu masuk ke Spotify, Apple Music, atau YouTube Music. Tantangannya adalah bagaimana lagu itu ditemukan, didengar, dan diingat. Bagi artis baru, merilis lagu saja tidak cukup. Mereka harus memiliki strategi konten, narasi visual, komunitas, dan identitas yang kuat agar tidak tenggelam di antara jutaan rilisan lain.
Video Pendek Jadi Mesin Discovery
TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts kini menjadi jalur penting dalam penemuan musik. Banyak lagu naik bukan karena kampanye radio atau playlist editorial, tetapi karena potongan 15 detik yang cocok untuk tren, meme, tarian, atau suasana tertentu. TikTok mengklaim fitur “Add to Music App” telah menghasilkan lebih dari 6 miliar penyimpanan lagu ke layanan streaming berbayar dalam 12 bulan terakhir. Angka ini menunjukkan hubungan yang semakin kuat antara video pendek dan kebiasaan mendengarkan musik. Tren ini juga membuat lagu lama bisa hidup kembali. Sebuah lagu dapat viral bertahun-tahun setelah dirilis karena nostalgia, meme, atau konteks baru di media sosial.
Superfans Jadi Aset Utama
Streaming memberi jangkauan, tetapi tidak selalu memberi margin besar. Karena itu, industri mulai fokus pada superfans. Superfans bukan hanya pendengar pasif. Mereka membeli tiket, merchandise, album fisik, konten eksklusif, dan ikut membangun percakapan di komunitas. Menurut Luminate, kelompok superfans menyumbang sekitar 20 persen dari pendengar musik di Amerika Serikat. K-pop menjadi contoh paling kuat. Lebih dari sepertiga pendengarnya masuk kategori superfans. Ini menjelaskan mengapa K-pop kuat dalam streaming, penjualan fisik, merchandise, konser, dan aktivasi komunitas. Bagi musisi, strategi masa depan tidak cukup hanya mengejar angka streaming. Mereka perlu membangun ekosistem yang terdiri dari lagu kuat, visual jelas, komunitas aktif, produk penggemar, dan pengalaman langsung yang bernilai.
AI Membawa Masalah Baru
Kecerdasan buatan menjadi salah satu isu terbesar dalam industri musik. AI tidak hanya membantu produksi. AI juga memunculkan pertanyaan serius tentang kepemilikan suara, hak cipta, royalti, dan identitas kreator. Deezer menyebut hampir 75.000 lagu berbasis AI diunggah setiap hari. Jumlah itu sekitar 44 persen dari total unggahan harian di platform tersebut. Meski konsumsi musik AI masih rendah, sekitar 1 sampai 3 persen dari total pemutaran, risikonya tetap besar. Masalah utama ada pada spam, peniruan identitas, manipulasi royalti, dan konten otomatis yang membanjiri katalog musik. Spotify juga mulai menindak konten AI, spam, dan peniruan identitas. Platform itu mengklaim telah menghapus lebih dari 75 juta lagu spam dalam 12 bulan terakhir. Artinya, industri musik kini tidak hanya bicara soal kreativitas. Industri juga harus memperkuat perlindungan katalog, metadata, sistem pembayaran, dan transparansi hak cipta.
Konser Tetap Kuat, tetapi Makin Terpolarisasi
Sektor live music masih menjadi sumber pendapatan besar. Live Nation melaporkan pendapatan US$25,2 miliar pada 2025, naik 9 persen, dengan 159 juta penonton global dan 55 ribu pertunjukan. Namun, pasar konser tidak tumbuh merata. Pollstar mencatat Top 100 Worldwide Tours menghasilkan US$8,9 miliar pada 2025, turun 6,1 persen dibandingkan 2024. Konser besar, tur stadion, residensi, dan pengalaman premium tetap kuat. Tetapi, artis menengah dan kecil menghadapi tekanan lebih berat. Biaya produksi naik, jadwal tur makin padat, dan penonton makin selektif dalam membeli tiket.
Peluang Baru untuk Pasar Non-Barat
Pertumbuhan industri musik kini tidak lagi bertumpu pada Amerika Serikat dan Eropa. IFPI mencatat Asia tumbuh 10,9 persen pada 2025. Amerika Latin naik 17,1 persen. Kawasan MENA dan Afrika Sub-Sahara juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Perubahan ini membuka ruang lebih besar bagi bahasa non-Inggris, genre regional, dan artis dari pasar baru. Indonesia punya peluang besar dalam perubahan ini. Namun, peluang itu harus diikuti tata kelola hak cipta yang lebih kuat. Transparansi metadata, distribusi royalti digital, dan pencatatan penggunaan lagu harus menjadi prioritas.
Tren industri musik 2026 dapat diringkas dalam satu kalimat: musik semakin mudah dirilis, tetapi semakin sulit dijadikan sumber pendapatan berkelanjutan. Streaming tetap menjadi fondasi. Video pendek menjadi mesin discovery. Superfans menjadi aset utama. AI memaksa industri memperbaiki sistem hak cipta. Konser tetap kuat, tetapi makin terkonsentrasi pada nama besar. Sementara itu, pasar Asia, Amerika Latin, Afrika, dan MENA semakin penting dalam peta musik global. Musisi yang menang bukan yang paling sering merilis lagu. Pemenang adalah mereka yang mampu membangun ekosistem kuat, komunitas aktif, data hak cipta yang rapi, strategi konten yang adaptif, dan pengalaman yang membuat penggemar merasa terhubung.
AI tidak selalu menjadi ancaman. Dalam produksi musik, AI bisa membantu mixing, mastering, pencarian ide, restorasi audio, hingga pembuatan demo. Banyak musisi dapat memakai AI sebagai alat kerja. Masalah muncul ketika AI digunakan untuk menggantikan identitas kreator, meniru suara tanpa izin, atau membanjiri platform dengan konten rendah kualitas. Karena itu, isu utama bukan “AI boleh atau tidak”. Isu yang lebih tepat adalah: siapa pemilik haknya, bagaimana penggunaan AI diungkapkan, dan bagaimana royalti dibagikan.
Standar kredit AI seperti DDEX menjadi penting karena memberi ruang bagi label, distributor, dan artis untuk menjelaskan bagian mana dari lagu yang memakai AI. Spotify sudah menyatakan dukungannya terhadap standar tersebut. Transparansi ini akan menjadi fondasi baru dalam industri musik digital. Pendengar perlu tahu apakah lagu dibuat manusia, dibantu AI, atau sepenuhnya dibuat mesin. Pemilik hak juga perlu sistem yang jelas agar karya mereka tidak dipakai tanpa izin.
(rr/7p/26)
Industri musik tidak lagi hanya ditentukan oleh radio, playlist editorial, atau promosi label. Dalam beberapa tahun terakhir, video pendek menjadi salah satu jalur utama yang menentukan apakah sebuah lagu bisa ditemukan, dipakai, dan akhirnya didengarkan ulang di platform streaming. Perubahan ini membuat strategi promosi musik ikut bergeser. Lagu tidak cukup hanya bagus secara utuh. Ia juga harus punya bagian pendek yang kuat, mudah dikenali, dan bisa hidup dalam konteks visual.
Short Video Menjadi Gerbang Awal Pendengar
TikTok menjadi contoh paling jelas dari perubahan ini. Pada April 2026, TikTok menyatakan fitur Add to Music App telah digunakan untuk menyimpan lebih dari 6 miliar lagu ke layanan streaming premium dalam 12 bulan terakhir. Fitur ini memungkinkan pengguna menyimpan lagu yang mereka temukan di TikTok ke platform seperti Spotify, Apple Music, dan Amazon Music. Angka itu menunjukkan satu hal penting: video pendek tidak berhenti sebagai ruang viral. Ia sudah menjadi jembatan langsung menuju konsumsi musik yang lebih panjang.Dulu, lagu biasanya dipromosikan dulu, lalu didengarkan. Kini, lagu bisa ditemukan lewat potongan 15 sampai 30 detik, dipakai sebagai audio video, lalu baru dicari di platform streaming.
Tantangan Setelah Lagu Menjadi Viral
Namun, viral di video pendek tidak otomatis membuat karier musik bertahan lama.
Banyak lagu naik cepat karena cocok dengan tren, meme, tarian, atau suasana tertentu. Tetapi, setelah tren selesai, perhatian publik bisa turun dalam waktu singkat. Di titik ini, tantangan musisi bukan hanya membuat lagu viral, tetapi mengubah perhatian sesaat menjadi pendengar loyal. Laporan TikTok dan Luminate pada 2025 menyebut 84 persen lagu yang masuk Billboard Global 200 pada 2024 lebih dulu viral di TikTok. Laporan yang sama juga mencatat artis dengan korelasi kuat di TikTok mengalami pertumbuhan streaming mingguan rata-rata 11 persen, lebih tinggi dari kelompok artis lain yang hanya 3 persen. Data itu kuat, tetapi perlu dibaca dengan hati-hati. Laporan tersebut dikomisikan oleh TikTok. Artinya, data ini relevan untuk membaca dampak platform, tetapi tetap perlu ditempatkan sebagai data dari pihak yang punya kepentingan langsung.
Hook Menjadi Sentaja Utama di Era Short Video
Perubahan terbesar dari era video pendek adalah cara lagu dikonsumsi.
Pendengar sering kali tidak menemukan lagu dari intro, verse, atau struktur penuh. Mereka menemukan lagu dari satu momen: hook, lirik emosional, drop, potongan vokal, atau bagian yang cocok dengan visual tertentu. Akibatnya, strategi produksi dan promosi ikut berubah. Musisi dan label kini perlu memikirkan:
Ini bukan berarti semua lagu harus dibuat untuk viral. Tetapi, lagu yang tidak punya titik masuk visual akan lebih sulit bersaing di ekosistem digital saat ini.
Streaming Tetap Menjadi Fondasi Bisnis Musik Digital
Meski video pendek menjadi gerbang discovery, streaming tetap menjadi fondasi bisnis musik rekaman global. IFPI mencatat pendapatan musik rekaman global mencapai US$31,7 miliar pada 2025, naik 6,4 persen secara tahunan. Streaming menyumbang lebih dari US$22 miliar, atau sekitar 69,6 persen dari total pendapatan musik rekaman global. Artinya, video pendek dan streaming kini saling terhubung. Video pendek menciptakan perhatian. Streaming mengubah perhatian itu menjadi konsumsi berulang dan potensi royalti. Masalahnya, hubungan ini tidak selalu seimbang. Banyak lagu mendapat exposure besar di media sosial, tetapi tidak semua berhasil mengubahnya menjadi pendengar rutin. Inilah sebabnya strategi promosi musik harus bergerak dari sekadar viral menuju retensi.
Peluang dan Tekanan bagi Musisi Independen
Bagi musisi independen, video pendek membuka peluang besar. Mereka tidak selalu membutuhkan label besar untuk membuat lagu dikenal. Satu potongan audio yang kuat bisa membawa lagu ke audiens luas. Namun, peluang ini juga datang dengan tekanan baru. Musisi kini sering dipaksa menjadi kreator konten, bukan hanya pencipta lagu. Mereka harus memahami format video, ritme unggahan, bahasa platform, dan perilaku audiens. Ini bisa melelahkan, terutama bagi musisi yang tidak punya tim konten. Di sisi lain, musisi yang mampu membangun narasi visual punya posisi lebih kuat. Mereka tidak hanya menjual lagu, tetapi juga menjual konteks: cerita, persona, emosi, dan komunitas.
Peran Label Musik dan Manajemen Artis di Era Digital
Bagi label, video pendek mengubah cara membaca potensi artis. Dulu, indikator utama bisa berupa demo, kualitas vokal, penampilan panggung, atau respons radio. Kini, label juga melihat sinyal digital seperti penggunaan audio, pertumbuhan followers, rasio penyimpanan lagu, komentar, dan perpindahan dari media sosial ke streaming. Tetapi, terlalu bergantung pada viralitas juga berisiko. Artis yang viral belum tentu siap secara katalog, panggung, atau identitas. Jika label hanya mengejar angka jangka pendek, mereka bisa kehilangan kesempatan membangun karier jangka panjang. Strategi yang lebih sehat adalah memakai data video pendek sebagai sinyal awal, bukan satu-satunya dasar keputusan.
Pengaruh Short Video terhadap Industri Musik Indonesia
Untuk industri musik Indonesia, pola ini sangat penting. Banyak musisi lokal kini memperkenalkan lagu melalui potongan lirik, konten behind the scene, challenge, atau video live session pendek. Namun, pasar Indonesia tidak boleh hanya meniru formula global. Lagu lokal punya kekuatan pada bahasa, kedekatan emosional, dan konteks budaya. Justru itu yang bisa membuat lagu lebih mudah terhubung dengan audiens. Musisi Indonesia perlu melihat video pendek sebagai etalase, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya tetap sama: membangun pendengar yang mau kembali, membeli tiket, mengikuti perjalanan artis, dan mendukung karya berikutnya. (rr/7p/26)